Sanatorium ≠ Planetarium

assalamualaikum.

"San, lo mau ikut psikotest ga?" tanya gama

"Boleh," jawab ikhsan "dimana?"

"Di Daerah darmawangsa" timpal gama "itu yang paling bagus."

"Ooh gitu," jawab ikhsan sambil berpikir "boleh deh."

"ya udah, tesnya 3 hari." jelas gama "Hari pertama hari sabtu. trus nanti kt buat perjanjian untuk pertemuan-pertemuan berikutnya"

"Ohh ok ok"

mungkin itu adalah awal mula dari kekonyolan-kekonyolan ini. udah tiga minggu ini gua dan tiga orang teman rajin tiap minggu berkunjung ke sanatorium da*********.

  • "melihat dari namanya, menurut gua definisi sanatorium adalah tempat dimana para profesor berkumpul untuk menjadi senator."  (Salah)
  • "sanatorium itu tempatnya planet-planet kan?" kata mas ari (supirnya gama) "eh bukan deh, itu planetarium" (salah)

ya udah, gua akhirnya pertama kali ke sanatorium (masih belum tau definisinya) itu hari sabtu sebelum puasa. di sana gua berempat mengisi lembar jawaban tes dengan normal. sampe pada hari itu gua masih berpikir bahwa sanatorium itu cuma tempat orang mau ikut psikotes. hari masih berjalan normal.

hari kedua, jatuh pada hari kamis. hari pertama puasa. masih tes tertulis, kali ini gua berempat tes bareng sama seorang lelaki tinggi berperawakan seram, berumur sekitar 17 tahun, matanya berair dan terus membelalak, suka senyum-senyum ngeliatin nadim. sekilas gua ngeliat dia miriiip banget sama Haywire (salah satu peran di prison break) tentu aja versi homonya. di hari ini gua udah mulai paham kalo sanatorium itu adalah rumah sakit jiwa. dilihat dari orang-orang yang duduk diruang tunggu semuanya pada nggak beres. ada yang matanya melotot fokus ke satu titik, ada yang meronta-ronta, ada yang diem aja dan gak pernah ngedip. ditambah lagi gua ngeliat satu ruangan yang pintunya selalu dikunci rapat dan ada tulisan "Pintu Ini Hanya Boleh Dibuka/Ditutup Oleh Satpam" setiap beberapa menit ada orang yg kurang waras keluar dari pintu tsb. ya pasti lo ngertilah didalem pintu itu ada apa. dari hari itu gua ngambil kesimpulan bahwa tidak semua orang yang berada di ruang tunggu adalah waras. jadi kalo kesana lo musti waspada dan boleh sedikit curiga.

the last day, hari ke tiga tanggal 22 sept 2007. hari ini wawancara dengan psikolognya, dan diminta membawa ortu. gua membawa nyokap gua ke planetarium sanatorium. gua nyampe jam 10. nyokap gua masuk ke sanatorium duluan pas gua parkir. pas gua udah masuk lobby, nyokap gua cerita kalo dia ketemu orang yang biasa nge-stem piano di rumah gua. trus gua nanya ke nyokap gua ngapain dia disini, apa jangan-jangan dia gila. akhirnya nyokap gua nyeritain pertemuannya itu deh.

"Eh, Pak Wiwi yah?" sapa nyokap gua

"Iya bu." jawabnya dengan muka curiga "maaf bu, tapi saya lupa ibu siapa?"

"Oh, bapak dulu sering nge-stem piano dirumah saya" jawab nyokap udah mulai curiga dan waspada. jangan-jangan Pak Wiwi ini sekarang udah lupa ingatan atau gila. nyokap langsung jaga jarak takut diapa-apain. "bapak masih di petrof?"

"oh masih-masih bu." jawab pak wiwi agak ragu-ragu. Pak Wiwi ini juga nyangkain nyokap gua salah satu pasien rumah sakit jiwa itu. yang artinya dia nyangkain nyokap gua orang gila juga.

ya udahlah, akhirnya mereka mengobrol dengan rasa saling curiga dan waspada satu sama lain. *gak enak bgt ya

nadim ngeliat ada orang gila memakai sweater lusuh dan bertelanjang kaki keluar dari suatu ruangan, terus di sapa resepsionis "udah selesai ya bu?"

"iya HOREEE" jawab si gila, langsung lari keluar sanatorium.

tidak beberapa lama kemudian, seorang dokter berlari dengan napas tersenggal-senggal dan panik bertanya "tadi liat ada ibu-ibu pake sweater merah nggak?"

"oh iya tadi udah keluar" jawab resepsionis

"YA AMPUN, dia kabur lagi!"

Leave a Reply