juni ‘05
pengumuman ujian nasional akhirnya datang, gua berhasil membanggakan ayah bunda dengan mendapatkan NEM yang bisa dibilang tinggi, yaitu 28,00. pencapaian yang sangat menggembirakan karena pada tahun sebelumnya dengan nem 23 saja, bisa menjadi tiket untuk masuk ke SMA-SMA favorit di Jakarta. disisi lain, gua bimbang, sekolah mana yang akan gua pilih? ayah nyaranin masuk 28, karena selain SMA yang unggulan, sekolah ini sangat dekat rumah. Namun tidak ada satu pun anak dari smp gua yang berminat untuk masuk sekolah ini, entah mengapa mereka lebih memilih sma2 lain. hal itu berarti gua bakal menjadi anak alumni smp al ikhlas satu-satunya yang berada di sma 28 ‘08.
setelah proses perundingan yang alot dan panjang, akhirnya walaupun dengan berat hati, gua memutuskan mengikuti saran ayah, SMA 28 Jakarta merupakan pilihan utama.
setelah proses seleksi berlangsung, gua akhirnya diterima di sekolah ini. gua berusaha untuk mencoba menyukai sekolah ini. sampai akhirnya hari yang gua tunggu2 datang juga, hari pertama sebagai murid SMA.
Sabtu, 16 Juli 2005.
suasana sekolah baru gua ini sangat berbeda dengan sekolah gua yang swasta dulu. dulu gua merasa enak ‘dimanja’ oleh sekolah. gua ga terbiasa dengan keadaan yang kayak gini. baru-baru masuk sekolah, kita udah harus menghadapi ‘Rindam Jaya’.
Rindam Jaya berarti tiga hari bersama tentara-tentara jeger yang tak kenal belas kasihan, tiga hari dengan bentakan-bentakan kasar, tiga hari makan makanan yg ‘kurang enak’, tiga hari tidur bersama kutu-kutu kasur, tiga hari bersama bau-bau keringet ga enak, tiga hari tanpa boker, tapi rindam jaya juga berarti: tiga hari untuk membangun pondasi persahabatan untuk tiga tahun. susah bersama, mandi bersama, makan dalam waktu 1 menit bersama, bernyanyi bersama, ngebunuhin kutu kasur bersama, nahan boker bersama, semuanya bersama.
hari-hari di rindam berakhir, sekarang gua menunggu-nunggu hari pertama belajar. hari itu adalah 25 Juli 2005, perkenalan dengan wali kelas. wali kelas gua bernama Kristina Sinaga umurnya sudah hampir memasuki umur-umur pensiun bagi guru. guru sejarah. dari namanya menyeramkan. pasti galak. ketika dia pertama kali masuk ke kelas, semua murid diam, memperhatikan karena kharisma yang dimiliki dari namanya. namun setelah ia berbicara dengan logatnya yang khas, ia jauh dari tipe guru yang menyeramkan. jauuh. sangat jauh.
ibu sinaga is a teacher that will not be forgotten by her students. ia yang menanamkan rasa nasionalisme pada setiap murid-muridnya. tak pernah satu kali pun ia tidak berteriak "INDONESIAA… INDONESIA!!" setiap masuk ke kelas. ia juga mencintai adat leluhurnya. ia kerap memanggil anak muridnya dengan sebutan "UCOOOOKK" atau "BUTEETTT". bahkan ia pernah menganalogikan seorang ketua kelas sebagai kepala suku, dan teman-temannya sebagai ayam-ayam. "HEI KEPALA SUKU!! BAWA ANAK-ANAK BUAH MU KEMBALI KE KELAS!!" teriaknya, "AYAM-AYAM KU DI KAMPUNG SAJA BERBARIS MASUK KE KANDANG!!" buset temen-temen gua disamain ama ayam.
salah satu adegan yang ga pernah gua lupain jd muridnya terjadi setelah libur lebaran tahun 2005. salah seorang teman gua, indra a.k.a adrian a.k.a doyok menerima musibah beberapa hari sebelum liburan usai. ibunya wafat. kebetulan ga ada yang ngasih tau bu sinaga. begitu ia tahu, dimulailah adegan mengharukan itu. ia memanggil indra a.k.a adrian a.k.a doyok ke depan kelas. ia menanyakan berita tersebut, air mukanya menunjukan kesedihan yang amat sangat. "kamu yang sabar ya, indra, ya" ujar bu sinaga. "maaf ibu baru tahu". gua melihat butir air mata jatuh dari pelupuk ibu guru yang keibuan ini. ia memeluk dan mencium indra penuh kasih sayang, sangat tulus. gua sebenernya malu untuk mengakui, tapi gua meneteskan air mata melihat suatu adegan kehidupan yang mengharukan ini. hari itu juga, ketika pulang sekolah, ia mengunjungi keluarga indra a.k.a adrian a.k.a doyok di rumahnya di kalibata.
pernah juga ketika ia mengajar sejarah asal-usul bangsa indonesia, "manusia-manusia awal itu memasuki indonesia lewat utara pulau sumatera. manusia awal itu jelek wajahnya." cerita ibu sinaga "sekarang keturunan manusia-manusia awal itu adalah orang-orang sumatera utara, kayak ibu. makanya ibu jelek kan?" tidak ada murid yang tertawa. semua meriuh rendah "ooouuuhhh". "ibu cantik kok, bu" ujar seorang murid. dari bu sinaga ini gua mengambil banyak pelajaran tentang nasionalisme, loyalitas, kerendahan hati, dan kasih sayang.
beralih ke kelas 2. sebenernya masuk sekolah tanggal 17 juli 2006. tapi gua masuk sehari setelahnya. inilah tahun dimana terjadi penurunan peringkat hidup gua. gua bisa dibilang salah satu anak terbandel, tertolol, dan tertidak disiplin di kelas. mood gua paling naik-turun di tahun ini. gua pernah ngebuat satu koridor anak kelas 1 banjir. ketika itu lagi badai di sekolah. karena gua mikir badai udh gede, lantai udah rada basah, ya mending sekalian dibanjirin kalo pun banjir, guru-guru bakal menyangka hal itu wajar, sama sekali ga ada ‘rekayasa’. gua bersama beberapa partner kriminal lainnya membuang isi drum air yang gua perkirakan isinya lebih dari 100 liter. dan…… banjir seantero koridor kelas 1.
16 juli 2007 hari pertama gua di kelas 3. senior. wali kelas gua, ibu Ai Sumiarsih. guru matematika. tegas, tegas, sangat tegas. disiplin. ia tidak menerima kesalahan sedikit pun. ia merupakan guru favorit gua dan sepertinya bukan cuma gua. ada yang terinspirasi menjadi guru setelah di ajar oleh bu Ai. kharismanya sangat tinggi. setiap ia berucap atau berekspresi, pasti mendapat cekikikan atau bahkan bila ia marah, akan menimbulkan rasa bersalah dari murid-muridnya. ia mengajarkan setiap muridnya agar dapat hidup di masyarakat. mengajarkan muridnya berlaku sebagai masyarakat madani walaupun secara tersirat. setiap kata yang keluar dari mulutnya merupakan mantra yang dapat membakar semangat bagi setiap anak-anak muridnya. selain keluarga gua, dia salah satu alasan gua harus diterima di uni pilihan utama gua. gua mau membuat dia bangga.
di kelas 3 ini, kelas gua bisa dibilang bukan kelas yang kompak. namun percaya atau tidak, kita pernah menyelesaikan suatu masalah yang cukup besar sampai kita merasa: kita ini keluarga. kita menangis bersama, menjerit putus asa, dan sama-sama menghibur sesama.
selain itu, ada guru yang membuat gua cukup terpesona. guru agama yang gua rasa memiliki IQ di atas rata-rata ia bernama Pak Suhartoyo. ia dapat menjawab semua pertanyaan yang gua tanya. bukan dengan jawaban yang asal. jawaban yang penuh dengan logika dan masuk diakal. tidak seperti kebanyakan guru agama yang lain. pernah suatu hari ia mendapat pertanyaan. ketika itu gua dan beberapa teman akan solat tapi, salah seorang dari kami ingin menemui pacarnya terlebih dahulu. kebetulan ia duduk di sebelah gua. gua bertanya "pak, mendingan ngeduluin cewe dulu atau Allah?". ia menjawab dengan santai "yaa, kalo pacar kan bisa ganti-ganti, bisa dicari lagi. kalo Allah bisa begitu?" sungguh jawaban yang mudah dimengerti, tidak bertele-tele, dan dengan alasan yang logis.
sekarang, setelah tiga tahun di sma 28 dan alhamdulillah udah diterima di uni pilihan utama gua. gua tau, gua banyak belajar dari sma 28. dan keraguan, keberat-hatian gua dulu ketika memilih SMA N 28 terbayar. gua merasa bangga dan beruntung menjadi murid sman 28 jakarta.